Cinta itu… Subversif!

March 2, 2006 tamanbunga

Judul : Perang

Penulis : Rama Wirawan

Penerbit : Jalasutra

Tahun Terbit : 2005

Jumlah hal. : xxiii + 176 hal. (12 x 19 cm)

ISBN : 979-3684-44-5

Marilah bermimpi dan jangan terbangun. Ayo lihat, apakah kita butuh dunia ini atau dunia yang selama ini butuh kita untuk bisa berputar? Kita lihat, siapa yang akan lebih dulu menyerah kalah.”

(hal. 134)

Namanya Perang. Perang Hayat. Ibunya memanggil dengan sebutan ‘Hayat’, sementara ayahnya (entah mengapa) memanggil dengan sebutan ‘Perang’. Teman-temannya juga memanggilnya dengan sebutan ‘Perang’.

Usianya masih muda, 22 tahun. Dia baru saja diwisuda dari bangku kuliah. Empat bulan menganggur dan kemudian bekerja di perusahaan printing. Lalu gelisah, terasing, mencari, menemu, dan membuat ‘Manifesto Perang Terakhir’.

Ini sebuah novel pendek. Jika mau, bisa dilahap sekali baca. Sambil menunggu pergantian mata kuliah atau perjalanan ke rumah pacar. Penulisnya juga penulis muda, Rama Wirawan. Juli nanti usianya menginjak 24 tahun. Dan ini bukan novel pertamanya. Saat masih menjadi siswa SMP dulu, ia pernah membuat Solat, novel humor yang beredar di antara teman-teman sekelasnya.

Sebuah novel, tentu saja, bisa dan boleh bermaksud apapun. Seperti tertulis dalam avant-propos penerbit novel ini. Ia bisa memiliki sebuah misi khusus, sebagai sebuah pernyataan sikap (politik) dari si penulis novel. Atau ia juga bisa tak bermaksud apapun, kecuali sekadar mengisahkan sesuatu atau menengahkan suatu cerita belaka. Sebagian lain, mungkin merupakan sebuah ekspresi berkesenian, pencapaian serangkaian eksperimen bercerita. Yang jelas, sebuah novel adalah sebuah kisah.

Di sampul depan novel ini, di bawah kata ‘Perang’ yang berwarna pink, ada tertulis ‘Sebuah Novel Subkultur’. Sebagian dari kita mungkin akan bertanya apakah maksud dari frasa ‘novel subkultur’. Apakah ia sebuah novel yang nyeleneh jika dibandingkan dengan novel-novel kebanyakan, sebuah novel yang hendak melawan mainstream kultur (baik dalam bentuk, isi, dan penyebarannya)? Ataukah ia sebuah novel yang berkisah tentang kehidupan mereka yang (merasa) hidup di area yang disebut ‘subkultur’? Novel Subkultur, tidakkah itu kosakata baru buat kebanyakan kita?

Novel ini dibuka dengan perkenalan singkat tokoh cerita. Sejak halaman pertama hingga halaman terakhir, kita akan senantiasa berkutat dengan tokoh ini. Tokoh-tokoh lain yang dimunculkan dalam novel ini hanya muncul sekilas-sekilas. Bahkan kadang tokoh-tokoh itu terasa cuma sekadar tempelan demi lancarnya jalan cerita si tokoh. Jika saja kita mau memberi perhatian pada hal ini, bisalah kita menyimpulkan, bahwa bentuk dari novel ini rasa-rasanya tidak terkesan nyeleneh.

Yang barangkali bisa disebut agak nyeleneh adalah kutipan-kutipan atau gagasan-gagasan para pemikir dunia yang bertebaran di novel ini. Kita bisa membaca kalimat-kalimat atau gagasan-gagasan milik Jean-Paul Sartre, Albert Camus, Pierre-Joseph Proudhon, Karl Marx, Dom Helder Camara, Adam Smith, hingga John Maynard Keynes. Semuanya tersedia, termasuk penjelasan-penjelasan tentang apa itu ‘kelas’, DIY (Do It Your Self!), gig, anarki, globalisasi, liberalisme, sampai neoliberalisme.

Penjabaran hal-hal di atas muncul lewat mulut para tokoh yang hadir di sekitar Perang. Seperti ketika hendak menjelaskan apa itu globalisasi. Diciptakan sebuah adegan diskusi di sebuah taman kota. Deni, salah satu tokoh novel ini, menjelaskan globalisasi secara panjang lebar dan tampil layaknya seorang guru di hadapan Perang yang berposisi selayaknya anak kecil yang punya rasa keingintahuan yang menggebu. Deni menjelaskan, “Begini. Globalisasi adalah tatanan dunia global, terutama perekonomiannya. Bukan berarti langsung mata uangnya jadi satu, tapi pelaksanaan ekonominya diserahkan pada pasar. Artinya….” (hal.63) Dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan cara yang nyaris sama, Dodo, tokoh pengelola distro dalam novel ini juga menjelaskan apa itu neoliberalisme. “Lalu? Ceritakan tentang neolib itu,” kata Perang. Dodo pun menjelaskannya dengan fasih, “Neoliberalisme sebetulnya bentuk baru atau neo dari liberalisme. Liberalisme sendiri bisa mengacu pada politik, ekonomi, bahkan religi. Di Amerika Serikat, liberalisme politik menjadi sebuah strategi untuk mencegah konflik sosial….” Perang lalu bertanya lagi, “Lalu liberalisme ekonomi itu apa?” Dodo menguraikan lagi, “Ini dimulai saat seorang ekonom Inggris bernama Adam Smith menerbitkan buku The Wealth of Nations. Dia dan para pengikutnya mengeluarkan ide untuk menghapus campur tangan pemerintah dalam urusan ekonomi. Artinya….” (hal.122)

Ya, membaca novel ini kita akan menjadi tahu banyak gagasan-gagasan yang biasa tampil di buku-buku teks kuliah. Hal ini mungkin mengingatkan kita pada Supernova Episode Akar, novel karangan Dee, lewat tokoh Bong. Atau surat-surat yang didapati Sophie Amundsend yang berisi konsep-konsep (dan sejarah) filsafat mulai pra-Socrates hingga Sigmund Freud dalam Dunia Sophie (Jostein Gaarder). Namun, bila dua novel tersebut memiliki cerita yang terkesan lincah dan manis, novel Perang ini cenderung tidak seperti itu.

Novel ini merasa cukup dengan berjalan secara linear. Minim kejutan untuk pembaca. Pembaca menikmati cerita yang terus berjalan maju. Dimulai dari kegelisahan Perang dengan “dunianya”, lalu bertemu tokoh-tokoh yang memberikannya influence, semakin gelisah, mulai menemukan “jati diri”, mencoba melawan, berkompromi, hingga berakhir dengan menemukan cinta (menikah dengan wanita yang ‘tepat’ dan mengadopsi anak).

Inilah mungkin sebab mengapa di sampul depan, judul ‘Perang’ ditulis dengan huruf berwarna pink. Di bagian akhir novel ini ada pesan yang cukup akrab di dunia subkultur, jatuh cintalah hari ini – dan mulai sebuah perubahan. Mengingatkan kita pada kegilaan Daniel Cohn-Bendit dan kawan-kawannya dalam Revolusi Perancis, Mei 1968. Di mana tembok-tembok kota Paris menjadi penuh dengan slogan-slogan dan grafiti sarat cinta yang subversif seperti, “Semakin sering aku membuat revolusi, semakin sering aku merasa seperti bercinta.”

Membaca novel ini di bulan Februari, paling tidak, mungkin akan membantu kita memikirkan ulang tentang cinta. Alih-alih hanya menjadi perayaan komoditas sistem yang kapitalistik, siapa tahu Valentine Day bisa menjadi “semenggelisahkan” May Day.

Ya, siapa tahu?!

Imam Hidayah Usman, Sindikat Kerja Taman Bunga Jatinangor.

Entry Filed under: bunga-bunga

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

March 2006
M T W T F S S
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts