Sindikat Belajar Filsafat TAMAN BUNGA
kawan-kawan yang baik,
rabu sore tadi beberapa kawan berkumpul di taman bunga. melingkari piring berisi gorengan hangat. hujan, petir, dan mati lampu. tapi kawan-kawan yang ada sore tadi tetap berdiskusi.
kawan-kawan juga bisa turut hadir di taman bunga setiap rabu sore. bahkan itu akan menambah keceriaan taman bunga. kita akan mencoba untuk saling bicara dan saling memahami (ehem). berusaha bersama-sama mencapai kualitas hidup yang mudah-mudahan lebih baik lagi.
sindikat belajar filsafat adalah program satu setengah jam demi belajar filsafat tanpa kerumitan (kawan, bukankah tugas-tugas kuliah juga sudah merumitkan?). untuk itu, kami percaya dengan kebebasan bicara, kelepasan ekspresi, dan kesantaian lingkaran dalam proses belajar.
sindikat belajar filsafat berusaha tidak membicarakan konsep-konsep besar (yang biasanya dengan bahasa-bahasa aneh) tentang tema-tema atau tokoh-tokoh filsafat. maka dari itu, sindikat ini rasa-rasanya tak akan menghasilkan orang-orang yang secanggih lulusan fakultas filsafat universitas indonesia atau driyarkara, atau alumnus extension course of philoshopy di universitas parahiyangan yang begitu menakjubkan dalam menceritakan sejarah filsafat dan segala macam konsep-konsep di belakangnya.
sindikat belajar filsafat akan membicarakan persoalan-persoalan yang dekat dengan kita: kebahagiaan, kegelisahan, makna keberadaan kita, cinta, dlsb.
kawan-kawan akan mendapatkan softcopy tulisan-tulisan diskusi sindikat.
terima kasih,
imam
6 comments March 2, 2006
tamanbunga
Undangan Bincang Buku
Taman Bunga dan AKATIGA mengadakan:
Bincang Buku
Yang Berkuasa, Yang Tersisih, Yang Tak Berdaya
Demokratisasi yang Bagaimana di Indonesia?
Penulis: Ina E. Slamet
Bincang Buku ini akan diselenggarakan pada:
Sabtu, 4 Maret 2006
Pukul 15.30
di
Toko Buku dan Perpustakaan
TAMAN BUNGA
Jl. Jatinangor 149
08156004381
Pembicara:
Sadikin (Peneliti AKATIGA)
Anugerah (Antropologi 2001)
Bincang Buku ini terbuka untuk umum dan gratis.
==========
Kata Pengantar : Hans Antlov
Penerbit : AKATIGA Pusat Analisis Sosial
Jumlah Halaman : xii + 92 hal
Terbit : Mei 2005
Buku ini menyuguhkan cerita yang sangat kuat mengenai peminggiran dan penindasan. Dengan menggunakan analisis struktural dari relasi kelas di dua studi kasus (Papua dan Jawa), penulis menyuguhkan argumen yang kuat mengenai penyebab peminggiran kaum miskin beserta kondisi kerentanan yang menyertainya. Menariknya, penulis tidak hanya berhenti sampai di analisis struktural saja, tetapi juga memberikan sejumlah langkah penting untuk keluar dari peminggiran.Ina Slamet adalah seorang Antropolog yang pertama-tama memulai penelitian lapangan secara partisipatif (participatory fieldwork) dan memfokuskan penelitiannya pada isu keterpinggiran dan perlawanan petani. Seseorang yang memiliki komitmen sosial, dan pada satu masa harus membayar mahal untuk komitmennya tersebut.
www.akatiga.or.id
===========
Add comment March 2, 2006
tamanbunga
Cinta itu… Subversif!
Judul : Perang
Penulis : Rama Wirawan
Penerbit : Jalasutra
Tahun Terbit : 2005
Jumlah hal. : xxiii + 176 hal. (12 x 19 cm)
ISBN : 979-3684-44-5
“Marilah bermimpi dan jangan terbangun. Ayo lihat, apakah kita butuh dunia ini atau dunia yang selama ini butuh kita untuk bisa berputar? Kita lihat, siapa yang akan lebih dulu menyerah kalah.”
(hal. 134)
Namanya Perang. Perang Hayat. Ibunya memanggil dengan sebutan ‘Hayat’, sementara ayahnya (entah mengapa) memanggil dengan sebutan ‘Perang’. Teman-temannya juga memanggilnya dengan sebutan ‘Perang’.
Usianya masih muda, 22 tahun. Dia baru saja diwisuda dari bangku kuliah. Empat bulan menganggur dan kemudian bekerja di perusahaan printing. Lalu gelisah, terasing, mencari, menemu, dan membuat ‘Manifesto Perang Terakhir’.
Ini sebuah novel pendek. Jika mau, bisa dilahap sekali baca. Sambil menunggu pergantian mata kuliah atau perjalanan ke rumah pacar. Penulisnya juga penulis muda, Rama Wirawan. Juli nanti usianya menginjak 24 tahun. Dan ini bukan novel pertamanya. Saat masih menjadi siswa SMP dulu, ia pernah membuat Solat, novel humor yang beredar di antara teman-teman sekelasnya.
Sebuah novel, tentu saja, bisa dan boleh bermaksud apapun. Seperti tertulis dalam avant-propos penerbit novel ini. Ia bisa memiliki sebuah misi khusus, sebagai sebuah pernyataan sikap (politik) dari si penulis novel. Atau ia juga bisa tak bermaksud apapun, kecuali sekadar mengisahkan sesuatu atau menengahkan suatu cerita belaka. Sebagian lain, mungkin merupakan sebuah ekspresi berkesenian, pencapaian serangkaian eksperimen bercerita. Yang jelas, sebuah novel adalah sebuah kisah.
Di sampul depan novel ini, di bawah kata ‘Perang’ yang berwarna pink, ada tertulis ‘Sebuah Novel Subkultur’. Sebagian dari kita mungkin akan bertanya apakah maksud dari frasa ‘novel subkultur’. Apakah ia sebuah novel yang nyeleneh jika dibandingkan dengan novel-novel kebanyakan, sebuah novel yang hendak melawan mainstream kultur (baik dalam bentuk, isi, dan penyebarannya)? Ataukah ia sebuah novel yang berkisah tentang kehidupan mereka yang (merasa) hidup di area yang disebut ‘subkultur’? Novel Subkultur, tidakkah itu kosakata baru buat kebanyakan kita?
Novel ini dibuka dengan perkenalan singkat tokoh cerita. Sejak halaman pertama hingga halaman terakhir, kita akan senantiasa berkutat dengan tokoh ini. Tokoh-tokoh lain yang dimunculkan dalam novel ini hanya muncul sekilas-sekilas. Bahkan kadang tokoh-tokoh itu terasa cuma sekadar tempelan demi lancarnya jalan cerita si tokoh. Jika saja kita mau memberi perhatian pada hal ini, bisalah kita menyimpulkan, bahwa bentuk dari novel ini rasa-rasanya tidak terkesan nyeleneh.
Yang barangkali bisa disebut agak nyeleneh adalah kutipan-kutipan atau gagasan-gagasan para pemikir dunia yang bertebaran di novel ini. Kita bisa membaca kalimat-kalimat atau gagasan-gagasan milik Jean-Paul Sartre, Albert Camus, Pierre-Joseph Proudhon, Karl Marx, Dom Helder Camara, Adam Smith, hingga John Maynard Keynes. Semuanya tersedia, termasuk penjelasan-penjelasan tentang apa itu ‘kelas’, DIY (Do It Your Self!), gig, anarki, globalisasi, liberalisme, sampai neoliberalisme.
Penjabaran hal-hal di atas muncul lewat mulut para tokoh yang hadir di sekitar Perang. Seperti ketika hendak menjelaskan apa itu globalisasi. Diciptakan sebuah adegan diskusi di sebuah taman kota. Deni, salah satu tokoh novel ini, menjelaskan globalisasi secara panjang lebar dan tampil layaknya seorang guru di hadapan Perang yang berposisi selayaknya anak kecil yang punya rasa keingintahuan yang menggebu. Deni menjelaskan, “Begini. Globalisasi adalah tatanan dunia global, terutama perekonomiannya. Bukan berarti langsung mata uangnya jadi satu, tapi pelaksanaan ekonominya diserahkan pada pasar. Artinya….” (hal.63) Dan seterusnya, dan seterusnya.
Dengan cara yang nyaris sama, Dodo, tokoh pengelola distro dalam novel ini juga menjelaskan apa itu neoliberalisme. “Lalu? Ceritakan tentang neolib itu,” kata Perang. Dodo pun menjelaskannya dengan fasih, “Neoliberalisme sebetulnya bentuk baru atau neo dari liberalisme. Liberalisme sendiri bisa mengacu pada politik, ekonomi, bahkan religi. Di Amerika Serikat, liberalisme politik menjadi sebuah strategi untuk mencegah konflik sosial….” Perang lalu bertanya lagi, “Lalu liberalisme ekonomi itu apa?” Dodo menguraikan lagi, “Ini dimulai saat seorang ekonom Inggris bernama Adam Smith menerbitkan buku The Wealth of Nations. Dia dan para pengikutnya mengeluarkan ide untuk menghapus campur tangan pemerintah dalam urusan ekonomi. Artinya….” (hal.122)
Ya, membaca novel ini kita akan menjadi tahu banyak gagasan-gagasan yang biasa tampil di buku-buku teks kuliah. Hal ini mungkin mengingatkan kita pada Supernova Episode Akar, novel karangan Dee, lewat tokoh Bong. Atau surat-surat yang didapati Sophie Amundsend yang berisi konsep-konsep (dan sejarah) filsafat mulai pra-Socrates hingga Sigmund Freud dalam Dunia Sophie (Jostein Gaarder). Namun, bila dua novel tersebut memiliki cerita yang terkesan lincah dan manis, novel Perang ini cenderung tidak seperti itu.
Novel ini merasa cukup dengan berjalan secara linear. Minim kejutan untuk pembaca. Pembaca menikmati cerita yang terus berjalan maju. Dimulai dari kegelisahan Perang dengan “dunianya”, lalu bertemu tokoh-tokoh yang memberikannya influence, semakin gelisah, mulai menemukan “jati diri”, mencoba melawan, berkompromi, hingga berakhir dengan menemukan cinta (menikah dengan wanita yang ‘tepat’ dan mengadopsi anak).
Inilah mungkin sebab mengapa di sampul depan, judul ‘Perang’ ditulis dengan huruf berwarna pink. Di bagian akhir novel ini ada pesan yang cukup akrab di dunia subkultur, jatuh cintalah hari ini – dan mulai sebuah perubahan. Mengingatkan kita pada kegilaan Daniel Cohn-Bendit dan kawan-kawannya dalam Revolusi Perancis, Mei 1968. Di mana tembok-tembok kota Paris menjadi penuh dengan slogan-slogan dan grafiti sarat cinta yang subversif seperti, “Semakin sering aku membuat revolusi, semakin sering aku merasa seperti bercinta.”
Membaca novel ini di bulan Februari, paling tidak, mungkin akan membantu kita memikirkan ulang tentang cinta. Alih-alih hanya menjadi perayaan komoditas sistem yang kapitalistik, siapa tahu Valentine Day bisa menjadi “semenggelisahkan” May Day.
Ya, siapa tahu?!
Imam Hidayah Usman, Sindikat Kerja Taman Bunga Jatinangor.
Add comment March 2, 2006
tamanbunga
Kegelisahan
I
‘Hidup yang tak pernah dipertanyakan adalah hidup yang sia-sia’. Minggu lalu kita tahu ini pernyataan Socrates. Tapi saya pikir-pikir lagi. Ternyata mempertanyakan hidup kita sama saja dengan mengotak-atik tempat kita berada di dunia ini. Pertanyaan yang biasanya muncul tentang hidup misalnya “dari mana kita berasal dan hendak ke mana kita berada?”, lalu disambung “untuk apa kita hidup?”, atau “apa sih maknanya hidup kita?”. Ini bukan pertanyaan sepele. Sepanjang sejarah, para filsuf berpusing-pusing ria berusaha menjawabnya; atau paling tidak mencoba menemukan kunci-kunci pembuka gudang jawaban. Bagi sebagian besar orang, pertanyaan seperti ini remeh-temeh belaka. Ini hanya pertanyaan tolol orang iseng yang tak punya kerjaan. Buat apa susah payah menjawab sendiri. Kita bisa copy-paste jawaban itu dari orang-orang bijak, nabi, ulama, pastor, atau para fasilitator yang pandai bicara. Tetapi persoalannya kita pasti sesekali menjadi orang yang tak punya kerjaan. Rutinitas keseharian memang seperti Bulan Ramadhan terhadap Setan yang membelenggu pertanyaan-pertanyaan eksistensial atau pertanyaan-pertanyaan yang menggugat arti hidup kita atau bahkan diri kita sendiri. Dalam perjalanan hidup, kita tidak jarang menemukan diri kita termenung dalam sunyi dan terpaksa membaca pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang berseliweran. Terutama ketika suasana hati tergugah oleh peristiwa yang mengguncang. Guncangan hidup yang kita alami hampir selalu memutus belenggu yang mengikat pertanyaan eksistensial. Mau tidak mau kita dihadapkan pada pertanyaan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial juga biasanya menimbulkan guncangan. Seperti membuka Kotak Pandora, ketika satu pertanyaan coba di tanggapi, maka akan mengalirlah beribu pertanyaan turunannya. Manusia tidak akan sanggup hidup bila terus-menerus menanyakan keberadaannya. Inilah yang oleh psikolog sebagai krisis hidup. Dalam krisis inilah bisa terjadi perubahan-perubahan radikal dalam diri kita. Perubahan itu bisa bermacam bentuknya. Tetapi yang penting adalah ‘Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita jawab? Bagaimana menjawabnya?‘
Banyak cara menanggapi pertanyaan eksistensial yang muncul. Kita bisa mengajak teman-teman ke Dago 34 membeli bir pilsener yang “Best served with friends” lalu curhat dan ngobrol ngalor-ngidul. Bisa juga ke Kubus atau main game RTS yang butuh waktu lama. Kalau ada waktu dan pakaian bagus, kita bisa ke Aa Gym tiap Jumat. Atau bagi yang punya duit datang saja ke psikolog untuk berkonsultasi. Bagi yang tidak punya duit cukup bangun malam dan tahajud berdoa kepada Allah; ke altar gereja dan doa rosario minta pertolongan Bunda Maria. Selain ke Kubus dan main game RTS, teman, Aa Gym, psikolog, atau Kekuatan Ilahiah pasti bisa menjawab; atau paling tidak, membuat kita tentram kembali. Mereka melerai pertarungan dalam diri antara kita dengan pertanyaan-pertanyaan di seputar hidup. Bagi mereka yang tidak percaya teman, Aa Gym, psikolog, atau Kekuatan Ilahiah, ada beberapa pilihan: gila, bunuh diri, atau menantang pertanyaan tersebut, menjawabnya, dan menjadi diri sendiri. Oleh karena itu, manusia yang paling patut dikasihani di seluruh dunia dan akhirat adalah orang yang tidak percaya pada Tuhan. Mereka tidak punya tempat curhat ketika tidak ada siapa-siapa yang bisa diajak curhat.
II
Dari mana munculnya pertanyaan-pertanyaan eksistensial? Dari kenyataan kita sebagai manusia. Cara berada kita di dunia berbeda dengan cara berada benda. Kutu kucing, kucing di depan warteg, showroom sepeda motor di depan itu, kampus Unpad, Pulau Jawa, negara Indonesia, Bumi, rangkaian planet-planet, galaksi, dan alam semseta; semua ini adalah Pengada-pengada. Tulisan ini, saya, dan anda yang membacanya juga pengada. Tetapi Pengada berbeda dengan Ada. Ada bukanlah kumpulan atau jumlah pengada-pengada. Tetapi Ada menopang Pengada-pengada. Tidak semua pengada bisa menanyakan Ada-nya. Jean-Paul Sartre (1905-1980), filsuf Prancis paling tersohor setelah Renatus Cartesius (1596-1650), membedakan cara berada manusia dengan cara berada bukan-manusia. Manusia berada-untuk-dirinya (étre-pour-soi); sedangkan benda berada-dalam-dirinya (étre-en-soi). Manusia adalah Pengada yang bisa menanyakan Ada-nya. (Saya mohon maaf kepada peserta Belajar Filsafat karena mulai dari paragraf ini kita terpaksa memulai pendakian tanjakan curam konsep-konsep filosofis yang njlimet).
Kucing, motor, buku, atau buah duku tidak pernah mempersoalkan Ada mereka. Mereka sekadar menjalani hidup. Kucing mondar-mandir di depan warteg, atau motor terparkir di depan toko. Sudah cukup. Ini berbeda dengan kita, manusia yang bisa bergumul dengan dirinya sendiri dan bertanya, mengapa ‘ada’. Kucing kudisan itu ‘ada’ begitu saja dan mungkin tidak pernah mengambil jarak terhadap ‘ada’-nya, karenanya dia tidak pernah menanyakan ‘ada’-nya. Yang bisa melakukan itu hanya Pengada yang bernama manusia. Kita adalah pengada yang ada-dalam-dunia. Keberadaan kita dalam-dunia bersifat ujug-ujug. Dasar keberadaan biologis kita mungkin adalah dilahirkan ibu di suatu tempat. Tetapi dasar asali atau dasar keberadaan ontologis kita adalah bahwa kita ‘ada-begitu-saja-di-dunia’, tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Itulah yang oleh Martin Heidegger (1889-1976) disebut dengan faktisitas atau kenyataan keberadaan kita sebagai pengada. Kita tidak pernah bisa memilih untuk hidup atau tidak hidup di dunia ini. Kita juga tidak bisa memperhitungkan akan lahir di rahim siapa, kapan, dan di mana. Kita juga tidak diberitahu harus bergerak ke mana. Kita tiba-tiba sadar sudah berada-dalam-dunia. Heidegger menyebutnya sebagai keterlemparan. Pengada-pengada yang lain juga ‘ada-begitu-saja’, tetapi tidak mempersoalkannya karena tidak mempunyai jarak dengan ‘ada’nya. Jarak itu ada karena kesadaran kita yang bersifat, dalam instilah fenomenologi Husserl, intensional. Maksudnya saya sadar bahwa saya adalah ‘saya’ karena saya sadar ada yang ‘bukan-saya’. Pantulan-pantulan dari sesuatu ‘yang-lain’ itulah yang membuat kita sadar bahwa kita ada.
Kesadaran manusia atas faktisitasnya yang ‘ada-begitu-saja’ inilah yang memunculkan ‘kesunyian purba’ dalam kehidupan manusia. Kesunyian ini menodorng manusia ‘membunyikan’-nya. Manusia menciptakan ilmu pengetahuan, agama, kebudayaan, untuk membunyikan kesunyian yang disandang keberadaannya. Søren Kierkegaard (1813-1855), bapak eksistensialis dari Denmark, menyatakan bahwa peradaban merupakan hasil kegelisahan manusia membunyikan kesunyian. Dalam kehidupan pribadi, identitas-identitas pribadi seperti nama, alamat, agama, kebangsaan, kegemaran, sikap-sikap hidup dan karakter, gaya rambut dan pakaian, dan segala atribut yang ‘mencirikan’ gue banget, merupakan upaya kita membunyikan kesunyian yang menggelayuti keberadaan kita dalam-dunia. Semua atribut itu kita ciptakan. Manusia menciptakan esensinya sendiri. Oleh karena itu, diktum filsafat Sartre yang paling terkenal adalah “eksistensi mendahului esensi”. Tidak ada kodrat, tidak ada suratan takdir, tidak ada tangan Tuhan dalam esensi kita. Manusia dihukum untuk bebas dan dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan. Kita adalah pengada yang belum selesai atau terus-menerus ‘mengada’. Seiring waktu kita menambah, membuang, atau mereparasi identitas-identitas yang membentuk ‘diri’ kita.
Jadi pertanyaan-pertanyaan eksistensial muncul ketika manusia berhubungan dengan ‘ada’nya. Pertanyaan ini tidak muncul secara rutin seperti UAS. Orang pun tidak akan sanggup hidup bila mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini setiap waktu. Tapi untung sekali karena kita lebih sering lupa daripada mengingat ‘ada’ atau bergumul dengan ‘ada’. Kelupaan itu karena dalam keseharian, kita lebih sering berhubungan dengan pengada-pengada yang lain. Saya kendarai motor dari Bandung ke Jatinangor dan sebaliknya, bertemu teman, ngobrol dengan tukang lotek, baca Kobo Chan atau Kariege Kun, nonton Excorcism, ngutang ke saudara, menulis, main game RTS, dan sebagainya. Hubungan praktis saya dengan pengada-pengada lain itu membuat saya tenggelam dalam rutinitas keseharian dan melupakan ‘ada’. Kita menganggap bahwa segala sesuatunya, termasuk diri kita, sudah seharusnya begitu adanya dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Ada nilai yang melekat dalam segala hal, termasuk hidup yang dijalani. Tetapi, dalam keseharian adakalanya orang terputus dari rutinitas itu, misalnya ketika harus mengambil keputusan penting; apalagi untuk masalah yang pilihannya sama-sama baik atau sama-sama buruk. Atau bisa juga muncul ketika bencana menimpa kita, entah bencana pribadi seperti ditinggal kawin oleh pacar tercinta atau bencana kolektif seperti Tsunami. Pada saat itulah kita berhubungan dengan ‘ada’ kita, yakni mempertanyakan ‘ada’ kita dan ‘ada’ hidup kita. Adakah nilai di balik (atau di atas, di samping, di belakang, di bawah, terserah anda mau menempatkannya) segala yang ada; adakah nilai keberadaan kita di dunia ini? Benarkah hidup itu baik, indah, dan anugrah; ataukah ia buruk, jelek, dan bencana; atau justru hidup itu tidak baik dan tidak buruk; hidup itu absurd, tanpa nilai. Suwung. Tidak ada apapun di balik segala ada.
III
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin muncul sekelebat dalam waktu sepersekian detik ketika kegundahan menimpa kita. Sebagian dari kita akan mengabaikannya; melupakannya dengan menyetel lagu Dewa 19 atau Peter Pan yang easy-listening itu. Ada yang segera mengucap astaghfirullah karena menganggapnya sebagai bisikan Iblis yang Terkutuk. Adapula yang menanggapinya sebagai anugrah dari ‘ada’. Hanya segelintir orang saja di dunia ini yang berani menantang kehadiran ‘ada’. Mereka begitu girang bertemu ‘ada’. Namun, karena perjumpaan dengan ‘ada’ selalu menggelisahkan karena akan menggugat segala pemahaman mapan yang selama ini dipercayai, maka orang-orang yang gemar berjumpa dan mempertanyakan ‘ada’ biasanya adalah orang-orang gelisah. Sejarah menunjukkan bahwa para nabi, rasul, budha, atau filsuf adalah manusia-manusia gelisah pendobrak tradisi. Mereka adalah orang-orang yang berani tampil beda secara radikal. Mereka juga pada awalnya selalu menjadi musuh masyarakat karena hasil pergulatan dengan ‘ada’nya diajarkan kepada masyarakat. Biasanya, jawaban hasil perjumpaan dengan ‘ada’ tidak sejalan dengan pemahaman yang mapan berlaku dalam masyarakatnya tentang hidup, manusia, dan dasar segala sesuatu.
Begitu jarang ‘ada’ hadir di hadapan kita untuk dibaca, direnungkan, dan digeluti. Seperti hantu, ‘ada’ kita hindari. Kita lebih suka mempercayai ‘ada’ kita dan juga ‘ada’ dari segala pengada yang berhubungan dengan hidup kita seperti yang diajarkan oleh sumber-sumber jawaban yang sudah mapan. Sumber jawaban mapan seperti ajaran agama, teori ilmu pengetahuan, otoritas orang tua dan sesepuh keluarga, pacar yang bijaksana, teman yang arif, menyediakan jawaban siap saji yang bisa dicopy-paste. Tetapi kita menghidupi hidup kita sendiri. Apakah psikolog lulusan Harvard mampu menyelam ke dalam pengalaman eksistensial kita? Mampukah Aa Gym memahami peristiwa yang kita alami karena kita menghidupi hidup yang unik? Adakah orang yang benar-benar mengalami peristiwa yang kita alami sehingga bisa memberikan jawaban atas persoalan hidup kita sendiri? Mungkin mereka mengetahui secara teoritis tentang keadaan lain yang mirip. Mereka bisa tahu dengan mempelajarinya dari buku teks atau pengalaman orang lain semirip yang kita alami. Tetapi mereka tidak akan mampu mengalami yang kita alami; yang benar-benar kita alami. Karena mereka bukanlah kita. Jika begitu, relakah kita percayakan jawaban atas persoalan hidup kita pada orang lain yang tidak benar-benar menggeluti hidup kita? Maukah kita serahkan jawaban atas persoalan hidup pada orang yang tidak mengalami pengalaman kita yang unik? Bila ya, maka kita akan memperoleh jawaban instan, lalu ketentraman dan hidup nyaman akan berlanjut. Bila tidak, dan memilih untuk menjawab sendiri persoalan itu, maka kita akan berjumpa dengan ‘ada’ kita, mempertanyakannya, dan menjawab tantangannya. Sulit. Sangat sulit. Sekali lagi kita diingatkan oleh Jean-Paul Sartre bahwa kita “dihukum untuk bebas”. Sanggupkah kita tanggung hukuman itu; ataukah kita gadaikan kebebasan kita untuk sekadar memperoleh kenyamanan dalam hidup yang sesingkat ini?
IV
Berjumpa dan ngobrol dengan ‘ada’ sudah merupakan pengalaman yang menggelisahkan sehingga sebagian besar dari kita melarikan diri darinya. Masih untung kalau kita, sebagai hasil perjumpaan itu, menemukan bahwa hidup mempunyai makna, entah itu baik ataupun buruk. Bagaimana kalau perjumpaan itu akhirnya membawa kita pada penemuan bahwa di balik segala ‘ada’ dalam hidup kita, termasuk diri kita sendiri, ternyata tidak mempunyai makna apapun alias absurd bin nihil. Celaka. Ternyata, sesuatu yang selama ini kita anggap punya makna, ternyata tidak. Celaka dua belas. Benar-benar celaka bila kita menemukan bahwa dasar kehidupan kita ternyata bukan suratan tangan tuhan, bukan hasil “pengaruh putih telur terhadap ketajaman gelasan”, dan bukan pula hasil kekuatan alamiah yang bekerja secara mekanik. Ternyata kehidupan hanyalah permainan; semacam guyonan tanpa sebab dan tujuan. Saya biasa menyandarkan segala sesuatu pada Yang Di Atas. Saya bisa bilang bahwa penderitaan yang saya alami adalah suratan takdir; sebuah cobaan yang pasti ada hikmahnya; atau sebuah teguran atau azab atas perbuatan jahat saya. Orang yang pede akan amal salehnya bisa bilang soal cobaan atau teguran. Orang yang tidak pede akan amal ibadahnya, seperti saya misalnya, bisa bilang bahwa penderitaan itu adalah azab; buah dari perbuatan yang buruk. Kita masih bisa menerima penderitaan yang kita alami bila ada jawaban atas penderitaan itu, entah itu cobaan, teguran, atau azab dari Yang Mahakuasa. Paling-paling kita mengeluh: “mengapa Engkau timpakan penderitaan seberat ini padaku?” Sekali lagi, ini masih untung karena ada jawaban. Tapi bila ternyata tidak ada apa-apa di balik penderitaan itu, apa yang akan kita lakukan?
Pilihannya tidak banyak. Pertama, orang bisa menolak kenyataan tersebut. Dalam kepanikan, penolakan bisa berujung pada menghentikan hidup: bunuh diri. Itulah yang banyak terjadi pada kasus-kasus bunuh diri di Indonesia. Penderitaan hidup sepertinya tanpa ujung. Penderitaan panjang itu sepertinya tidak diikuti oleh hikmah seperti yang diajarkan tokoh-tokoh agama. Lalu buat apa melanjutkan hidup yang tak berarti ini? Bunuh diri, menurut Albert Camus (1913-1960), seorang filsuf eksistensialis dari Prancis, adalah “sebuah pengakuan… pengakuan si pelaku bahwa ia telah terkalahkan oleh kehidupan atau bahwa ia tak mengerti hidup… pengakuan bahwa hidup sudah tidak layak dijalani”. Bagi Camus kehidupan adalah milik manusia satu-satunya yang paling berharga di hadapan yang tanpa-makna alias absurd bin nihil.
Penolakan juga bisa berujung pada mereka-reka keadaan seolah-olah hidup kita bermakna. Kita tenggelam dalam khayalan yang bersebrangan dengan kenyataan hidup: gila.
Pilihan terakhir adalah menerima kenyataan secara aktif. Memang kehidupan tanpa makna. Tapi karena kita dihukum untuk bebas, maka kita bisa memaknainya sendiri. Karena makna kehidupan itu kita yang menciptakan, maka kita juga harus menanggung segala resiko dan bebannya di pundak kita sendiri. Bila kita sudah memilih makna bagi hidup kita di dunia ini, maka tidak ada lagi penyandaran kekeliruan pilihan kepada ‘yang lain’. Baik-buruknya pilihan makna hidup, harus kita sendiri yang menanggung. Inilah ujian terberat kita sebagai pengada yang bisa menanyakan ‘ada’nya. Sanggupkah?
Waktu seusia anak kelas 5 SD, saya, seperti sebagian anak kampung lainnya, pernah menjadi gembala domba. Sepulang sekolah saya menggiring domba ke padang rumput sementara bapak mengumpulkan rumput. Betapa nyamannya menjadi domba. Tidak perlu sekolah dan diteror PR setiap hari. Si domba lahir dan menyusu pada ibunya, lalu setelah beberapa minggu ia belajar mencari makan. Dia belajar memilih rumput yang enak supaya sehat dan gemuk. Dia belajar mengunyahnya sesuai tradisi. Ketika sudah ahli mencari rumput dan mengunyahnya, domba itu belajar juga mencari pasangan kawin dan ‘menikmati’ seks. Mula-mula ditolak. Tapi lama-lama dapat juga. Domba pun kawin dengan domba betina pilihannya. Istrinya hamil dan melahirkan anak. Anaknya beranjak remaja dan sudah bisa mencari makan sendiri. Kini si domba sudah dewasa dan menjelang ajal, entah dijagal untuk dimakan dagingnya atau mati karena penyakit. Sejak dijinakkan 10.000 tahun lalu, mungkin hampir semua domba menjalani hidupnya seperti domba saya. Mereka menjalani hidup seadanya. Hidupnya mengalir; benar-benar mengalir seperti air sungai Nil dari hulu ke hilir. Tidak pernah berhenti dan merenung sejenak. Tidak ada “pengalaman”, tidak pula pertanyaan akan ‘ada’nya. Begitu tentram hidupnya. Begitulah cara domba saya ‘berada’.
Zorosastro Wardoyo
Sindikat Belajar Filsafat
1 comment March 2, 2006
tamanbunga
Kebahagiaan
Akhir-akhir ini kita sering mendengar kisah-kisah, meski tidak unik tetapi menarik, yang menampakkan paradoks kehidupan. Ada kisah-kisah perkawinan penuh senyum berdampingan dengan perceraian dalam dendam. Ada kisah lahirnya anak selebritis diiringi sukacita berbarengan dengan berita mayat-mayat bayi di tumpukan sampah. Ada juga kisah kenikmatan seks rombongan beriringan dengan cerita tangis kepasrahan penggemar Arifin Ilham atau Pendeta Lumoindong. Ada kisah mahamurah Bunda Teresa beriringan dengan cerita kebengisan George W. Bush. Betapa riuhnya dunia tempat kita tinggal. Penuh pertentangan. Seribu satu kelakuan muncul dari mahluk berjenis manusia. Dari tujuh not nada bertunaslah jutaan lagu. Mungkin itulah yang menjadi alasan Socrates (470-399 SM) lebih suka membincangkan soal manusia daripada alam semesta seperti yang dilakukan filsuf-filsuf Yunani sebelumnya. Kalau boleh berspekulasi, semua yang dilakukan manusia, entah diakui atau tidak, adalah upaya memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan.
Setiap orang ingin bahagia. Itu pasti. Manusia berupaya mengalami kebahagiaan. Ada yang percaya bahwa kebahagiaan bisa dicari dalam harta. Orang bekerja keras membanting tulang, mengumpulkan uang, atau menipu untuk memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. Kekayaan dianggap puncak yang harus dicapai untuk menikmati matahari terbit yang indah. Semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagialah ia. Ada pula yang percaya sebaliknya; meninggalkan harta adalah sumber kebahagiaan. Ada orang yang menanggalkan semua hartanya, tidak bekerja, dan pergi ke tempat-tempat sunyi menjadi pertapa. Kekayaan dianggap jurang gelap nan dalam dan bisa membinasakan kebahagiaannya sebagai manusia fana. Semakin sedikit kebutuhan akan kekayaan, semakin bahagialah ia. Benarkah kebahagiaan ada atau tidak ada dalam sesuatu di luar diri kita, ataukah ia berada dalam diri kita dan menunggu untuk ditemukan? Kebahagian merupakan tujuan akhir dari segala upaya yang dilakukan manusia. Kebahagian berharga pada dirinya sendiri. Ketika orang sudah mencapai kebahagiaan, yang lain menjadi tidak perlu lagi. Tapi apa sebenarnya kebahagiaan itu?
Belajar Filsafat kali ini akan membahas tentang kebahagiaan, sebuah tema yang sudah sekuno filsafat itu sendiri. Para filsuf, mulai dari Budha, Socrates, hingga Kierkegaard mencari kebahagiaan. Begitu pula saya, teman saya, sepupu saya, dan Anda. Saya punya teman. Dia cantik, pintar, memraktekkan agamanya, dan gaul. Tidak sedikit teman laki-laki yang mendekatinya. Ada juga yang langsung mengajaknya menikah. Dia belum bergeming dan tidak memilih salah satu. “Kenapa pilih-pilih begitu?” tanya saya suatu kali. “Tidak adakah satupun dari mereka yang memenuhi kriteriamu?”. Ada yang sudah mapan, bekerja di suatu bank ternama di Bandung. Ada juga seorang ahli teknik di Danone-Aqua. Dia ingin masa depan yang bahagia. Tentu saja. Semua orang juga ingin. Dia percaya kebahagiaan bisa diperoleh dari keluarga yang harmonis, suami yang setia, anak yang baik, penghidupan yang layak, dan mertua yang tidak cerewet. Dia percaya kebahagiaan ada di ‘luar sana’; di luar dirinya.
Bila kita cermati semua ajaran agama dan filsafat yang pernah mampir ke dunia ini, maka kita akan menemukan bahwa kebahagiaan tidak ada ‘di luar sana’ secara murni. Ada andil dari pemahaman kita sendiri tentangnya. Socrates, misalnya, bilang bahwa kebahagiaan adalah keadaan ketika kita mencapai diri yang sempurna. Kesempurnaan ini diraih dengan mencapai pemahaman akan ‘yang baik’; dan kita mencapai ‘jiwa yang baik’ (eudaimonia). Eudaimonia sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan; kebahagiaan dalam arti luas; keadaan jiwa manusia yang melampaui perasaan subjektif seperti senang atau gembira.
Bagaimana kebahagiaan ini tercapai? Sekali lagi Socrates menjawab: “Dengan memiliki keutamaan berupa pengetahuan tentang ‘yang baik’”. Keselarasan antara mengenal dan berperilaku baik merupakan jalan satu-satunya mencapai kebahagiaan. Teman saya langsung ngotot. “Tidak; tidak mungkin benar. Buktinya para pejabat itu tahu bahwa orang miskin itu sengsara, tapi tetap saja mereka menerapkan kebijakan yang menyengsarakan orang miskin!” Ya, teman saya benar juga. Banyak orang tahu tentang ‘yang baik’, tapi mereka tidak menerapkan dalam kehidupan mereka. Mereka tahu bahwa menipu bukan ‘yang baik’, tapi mereka melakukannya. Keberatan seperti ini ada benarnya, tetapi maksud Socrates dengan ‘mengetahui yang baik’ adalah mengetahuinya secara eksistensial, bukan secara teoritis. Artinya, ‘mengetahui’ itu melibatkan seluruh aspek dan dimensi kepribadian manusia. Contoh dalam kartun adalah ketika tokoh digambarkan dinaungi awan berisi bola lampu dan diriingi suara ‘ting!”. Orang yang bahagia adalah orang yang tahu tentang ‘yang baik’ dan berusaha mencapainya sesederhana apapun. Jadi, kebahagiaan berada di dalam diri kita sekaligus berada di ‘luar sana’. Orang yang bergantung pada sesuatu ‘di luar sana’ untuk bisa bahagia, rasanya tidak akan pernah bahagia karena tidak semua yang ‘di luar sana’ bisa kita miliki.
Meski Socrates tidak punya sekolah, banyak orang yang kemudian mengaku sebagai muridnya dan menyatakan bahwa mereka menjalankan filsafatnya. Dua di antara yang terkenal adalah Kaum Sinis dan Hedonis. Suatu hari Socrates sedang jalan-jalan di sudut Athena diikuti beberapa orang ‘muridnya’. Ketika melewati sebuah toko kelontong, Socrates berucap: “Hmm, ternyata banyak nian yang tidak aku perlukan”. Ucapan sinis inilah yang membuat Diogenes dari Sinope (412-323 SM) menerapkan ajaran “dengan sesedikit mungkin material yang dibutuhkan, maka kita akan mencapai kebahagiaan”. Diogenes yang juga dikenal sebagai Diogenes dalam Tong, konon pernah dikunjungi oleh Alexander Agung. Sang Kaisar bertanya: “Dio, adakah yang engkau inginkan dariku?”. Dari dalam tongnya, Diogenes menjawab, “Ya, bergeserlah ke samping, Anda menghalangi cahaya mentari”. Antisthenes (?), seorang dari filsuf Sinis pernah bilang: “Aku takut pada harta-kekayaan karena ia menciptakan ketidaksetaraan; ketaksetaraan menimbulkan kecemburuan; dan kecemburuan memunculkan kebencian; dan kebencian menurunkan derajat kemanusiaan manusia.” Bagi Diogenes dan kaum Sinis lainnya, keterikatan pada barang-barang materi telah merusak kealamiahan manusia dan karenanya menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kelepasan dari ketergantung terhadap sesuatu ‘di luar sana’; terutama materi. Sepanjang hidupnya konon Diogenes cuma punya satu mantel, tongkat, kantong roti, dan tong tempat tinggal.
Pendapat bersebrangan datang dari orang yang juga mengaku sebagai murid Socrates, yaitu Aristippus (435-355 SM), filsuf dari Kyrene, Afrika Utara. Socrates pernah mengajarkan bahwa tujuan hidup adalah mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan diperoleh dengan mengetahui ‘yang baik’. Filsafat adalah upaya untuk mengetahui ‘yang baik’ tersebut. Oleh Aristippus ‘yang baik’ diterjemahkan sebagai ‘yang nikmat’. Segala sesuatu yang nikmat bagi tubuh adalah baik. Orang bahagia adalah orang yang mengupayakan kenikmatan dalam hidupnya. Mengejar kenikmatan merupakan upaya (actus) yang dilandasi oleh pemahaman tentang yang nikmat (praxis). Rasio manusia bertugas untuk memperhitungkan pemaksimalan kesenangan dan peminimuman kesusahan (badani). Kalau kita pikir-pikir, bisa jadi pemikirannya benar. Selama ini tidak sedikit orang yang mengupayakan kenikmatan badani dengan mengumpulkan kekayaan, lalu membelanjakannya untuk makanan lezat, minuman enak, seks, tamasya, atau ke spa. Orang berlomba-lomba memperoleh kenikmatan. Bahkan barang terlarang pun dibeli jika itu memberi kenikmatan. Tetapi apakah benar kebahagiaan bisa diperoleh dari itu semua? Jawabannya jauh dari abad ke-19 di Denmark. Søren Kierkegaard (1813-1855), filsuf eksistensialis itu bilang “ya, bisa”. Kenikmatan badani atau oleh Kierke disebut sebagai kenikmatan estetik merupakan satu dari beberapa sumber kebahagiaan manusia. Tetapi, kenikmatan estetik itu sifatnya sangat terbatas. Selagi sumber kenikmatan itu ada, maka bahagialah ia. Sumber kenikmatan seperti tamasya, minuman enak, makanan lezat, tidak bertahan lama. Ketika tubuh sakit, maka lenyaplah segala kenikmatan itu. Ketika tidak lagi mempunyai uang untuk membeli ‘kebahagiaan’ itu, sengsaralah kita. Selain itu, kita akan selalu mencari dan terus mencari lagi sesuatu yang baru dan dianggap menyenangkan. Intinya, ketergantungan kepada sesuatu di luar diri; apalagi berupa materi, bukanlah sumber kebahagiaan sejati.
Kembali ke ajaran kaum Sinis, maksud ajaran mereka tentang ketidakterikatan pada materi pada intinya bukan berarti kita tidak boleh mempunyai dan menikmati materi; tetapi tidak terikat dengan yang kita punyai tersebut. Dalam ajaran agama mungkin ini yang disebut ikhlas. Semuanya milik Allah. Semua ada dan tiada karena Allah. Ketika kita terikat, maka sama saja seperti kita melekatkan stiker ke betis. Cabutlah stiker itu, maka sakitlah betis kita karena ada yang tercerabut, yaitu bulu. Muhammad, nabi Islam dari Arab, konon pernah bilang: janganlah mencintai atau membenci seseorang (juga sesuatu) seratus persen. Cukuplah lima puluh persen saja. Sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi orang yang paling kita cintai menjadi orang yang paling membuat kita menderita; dan sebaliknya.
Aristoteles (384-324 SM), salah seorang murid Plato yang terkenal, mengajukan pendapat bahwa kebahagiaan adalah tujuan terakhir hidup manusia. Apabila kita sudah bahagia, maka kita tidak memerlukan apa-apa lagi. Kalau sudah bahagia, tidak masuk akal jika kita masih mencari sesuatu yang lain. Kebahagiaan itulah yang baik dan bernilai pada dirinya sendiri. Berkaitan dengan kenikmatan estetik di atas, keterbatasan sumber kenikmatan dan efek terus mencari ‘yang lain’ untuk bisa bahagia menunjukkan bahwa kebahagiaan yang diperoleh dari kenikmatan badani bersifat semu. Ketika ketika percaya bahwa kita akan bahagia dengan mempunyai sebuah mobil mewah, maka ketika kita tidak memilikinya maka kita akan sengsara. Itu namanya kebahagiaan bersyarat. Rumusnya adalah: bila ada X maka bahagia. Ketergantungan pada X, sesuatu yang kita anggap membahagiakan, justru bagi Budha Gautama adalah sumber kesengsaraan. “Keinginan adalah sumber penderitaan”, ajar Budha pada muridnya Kasyapa (Kalimat ini pernah menjadi sepenggal lirik lagunya Iwan Fals).
Lalu, jika kebahagiaan tidak kita gantungkan pada sesuatu ‘di luar sana’, apalagi berupa kenikmatan materi, apa yang mesti kita lakukan? Apakah kita akan mengikuti Budha dengan cara melenyapkan keinginan? Bila sumber kebahagiaan berada dalam diri kita sendiri, bagaimana kita memunculkannya? Apakah dengan mengetahui sebanyak mungkin hal dan menganalisisnya untuk menemukan ‘kebahagiaan’ kita sendiri? Tetapi dengan semakin banyak tahu, bukankah kita akan semakin punya banyak pertanyaan; dan setiap pertanyaan adalah kegelisahan dan tidak akan menentramkan?
Ada satu novel Jepang. Oleh kawan saya dianggap bukan karya sastra bermutu. Judulnya Musashi, karya Eiji Yoshikawa. Dalam novel tersebut Musashi, tokoh utamanya, mengalami perubahan yang cukup radikal sepanjang perjalanan hidupnya. Perubahan tersebut dipicu oleh perubahan-perubahan cara pandangnya tentang berbagai hal; terutama pandangannya tentang diri dan hidup yang dijalani. Ia ingin mengikuti “Jalan Pedang” untuk mencapai kebahagiaan. Mulanya dia beranggapan bahwa menjadi yang terkuat akan menghantarnya menuju hidup bahagia. Dia lewati jalan hidupnya dengan menantang hampir semua jagoan pedang. Beberapa perguruan dikalahkannya. Namun, perjumpaan-perjumpaannya dengan berbagai orang dan peristiwa yang mengajari hidup dan kehidupan telah menghantarnya pada pemahaman bahwa Jalan Pedang sejati adalah kemampuan tidak menggunakan pedang dalam pertarungan dengan lawan; dan lawan yang paling tangguh adalah diri sendiri. Oleh karena itu, hidup bahagia bisa dicapai dengan menerapkan perilaku rendah hati, kejujuran, dan mengikuti alam.
Mungkin semua kesimpulan Musashi terdengar klise dan biasa-biasa saja karena kita sudah tahu semua itu dari pelajaran agama dan pendidikan moral yang kita dapat sejak kita kecil. Tetapi, pengetahuan kita tentang hal tersebut masih bertaraf ‘pengetahuan teoritis’. Pengetahuan teoritis akan ‘yang baik’ tidak serta merta membuat kita berperilaku ‘baik’. Buktinya berapa puluh kali para pejabat negara kita mengikuti Diklat yang pasti salah satu kuliahnya adalah tentang moral Pancasila. Nyatanya negara kita adalah negara terkorup di Asia Tenggara. Jadi, yang penting justru bukan kesimpulan itu sendiri, tetapi bagaimana orang mengetahuinya secara eksistensial lewat seluruh hidup yang dijalani; lewat kisah-kisah yang dialami. Ada sebuah pepatah: “pengalaman adalah guru terbaik”. Pepatah ini tidak keliru, tetapi hanya separuh benar. Hanya pengalaman yang diolah, dipikirkan, dan dihidupi saja yang bisa menjadi guru terbaik sehingga, sebenarnya, kitalah guru terbaik itu sendiri. Olah karena itu Socrates berpesan: “Hidup yang tidak pertanyakan adalah hidup yang sia-sia”.
Jangan bergurau Pak Socrates! Kalau kita selalu mempertanyakan hidup ini, kita akan kebanjiran pertanyaan yang mau tidak mau akan mengurangi kesempatan kita menikmati hidup yang singkat ini! Bukankah memusingkan untuk menjawab dari pengalaman sendiri “untuk apa hidup?”? Lebih baik kita copy-paste saja jawaban yang sudah ada. Misalnya jawaban ustad terkenal atau dari buku orang sukses. Bisa juga dari buku-buku panduan manajemen (qalbu, emotional & spiritual quotien, dkk.). Atau, mungkin lebih baik tidak usah ditanyakan saja. Hidup kita singkat. Belum lagi berbagai kesibukan seperti pacaran, belanja, kuliah, kursus bahasa Prancis di CCF, atau makan bareng teman-teman di warung sea-food.
Waktu seusia anak kelas 5 SD, saya, seperti sebagian anak kampung lainnya, pernah menjadi gembala domba. Sepulang sekolah saya menggiring domba ke padang rumput sementara bapak mengumpulkan rumput. Betapa nyamannya menjadi domba. Tidak perlu sekolah dan diteror PR setiap hari. Si domba lahir dan menyusu pada ibunya, lalu setelah beberapa minggu ia belajar mencari makan. Dia belajar memilih rumput yang enak supaya sehat dan gemuk. Dia belajar mengunyahnya sesuai tradisi. Ketika sudah ahli mencari rumput dan mengunyahnya, domba itu belajar juga mencari pasangan kawin dan ‘menikmati’ seks. Mula-mula ditolak. Tapi lama-lama dapat juga. Domba pun kawin dengan domba betina pilihannya. Istrinya hamil dan melahirkan anak. Anaknya beranjak remaja dan sudah bisa mencari makan sendiri. Kini si domba sudah dewasa dan menjelang ajal, entah dijagal untuk dimakan dagingnya atau mati karena penyakit. Sejak dijinakkan 10.000 tahun lalu, mungkin hampir semua domba menjalani hidupnya seperti domba saya. Mereka menjalani hidup seadanya. Hidupnya mengalir; benar-benar mengalir seperti air sungai Nil. Tidak pernah berhenti dan merenung sejenak. Tidak ada “pengalaman”, tidak pula pertanyaan. Begitu tentram hidupnya. Begitulah cara domba saya mengalami ‘kebahagiaan’.
Zorosastro Wardoyo
Sindikat Belajar Filsafat
1 Oleh karena itu filsafat moral dari mulai Socrates hingga munculnya ajaran etika Immanuel Kant (1724-1804) disebut etika eudaimonistik atau filsafat moral yang tujuan akhirnya adalah mencapai ‘jiwa yang baik’ atau kebahagiaan.
Add comment March 2, 2006
tamanbunga